SEKILAS INFO
: - Minggu, 19-05-2024
  • 3 tahun yang lalu / Liburan Habis, Waktunya kembali ke Pondok lagi.
  • 3 tahun yang lalu / Waktu liburan sudah habis, saatnya kembali belajar menggali ilmu kembali.

K. ABDULLOH SYIROJ

Beliau sangat piawai dalam hal diplomatik dan bantah-bantahan, diantaranya ketika belanda mengadakan proyek besar membuat jalan lori untuk mengangkut tebu, dan membeli tanah penduduk yang akan dipakai untuk jalan tersebut, tanah beliau juga termasuk dalam proyek itu. Namun beliau menolak untuk menjual tanahnya. Oleh karena itu beliau di panggil oleh pemerintah belanda dan ditanya “ kamu minta harga berapa atas tanahmu itu ? “ beliau jawab “saya minta seratus ribu “ (umpama umumnya seharga seribu permeter). Belanda dengan kagetnya bertanya lagi “Bagaimana kamu bisa menjual tanahmu dengan harga setinggi itu ?” jawab beliau “dengan mencetaknya menjadi batu bata “. akhirnya belanda tidak jadi membeli tanahnya dan proyek itupun gagal.

Dalam hidup berkeluarga beliaupun sangat arif dan bijaksana, terbukti pada suatu ketika istri beliau (Nyai hannah) memarahi putranya (A. Hafidz) ketika masih kecil. Setelah selesai beliau mengajak putranya dengan naik sepeda dan membelikannya lontong tahu (makanan kesukaannya) seraya berkata kepada putranya “Makanya kamu jadi anak jangan bandel-bandel, kalau kamu tidak bandel tidak mungkin kamu dimarahi. Kalau kamu nanti punya keluarga dan istrimu marah pada istrimu, jangan ikut-ikutan marah padanya melainkan kamu harus bisa ngedem-ngedem (menghibur anakmu) dengan membelikan makanan atau barang kesukaannya.

Nara Sumber : Bapak Lazim, Tuban.

Beliau sekolah ke Lerboyo nduduk (nglaju) ,dengan naik sepeda yang kemudian di ambil menantu oleh K.Manaf .Beliau orangnya tidak terlalu tinggi,agak gemuk seperti K.Marzuki dan brewok.Nara sumber :KH.Busro Probolinggo.

Beliau adalah putra ke empat Mbah Soleh ,beliau lahir pada tahun 1901 .    Pertama kali menikah tadak berlangsung lama dan berakhir dangan furqoh dengan tanpa memiliki putra .Selama menduda yang kurang lebih 2 tahun beliau ngaji kepada K.Abdul Karim Lirboyo.Karena ketekunannya  belajar,beliau dijadikan menantu oleh K.Abdul Karim .Untuk isteri beliau yang bernama Ny.Hannah yang statusnya pada waktu itu juga janda tapi belum punya anak .Selanjutnya beliau melangsungkan pernikahan yang kedua kalinya .Dari hasil pernikahan tersebut beliau dikaruniai 6 putra yang diantaranya yaitu KH.Ahmad Hafidz dan Ny.Fatimah (Slumbung).Sedangkan 4 lainya telah meninggal sewaktu kecil .

Ketika KH. Ahmad Hafidz masih berumur kurang lebih 2 tahun, K. Abdulloh Siroj pindah keTurus Utara.disana beliau mendirikan pesantren sendiri. Kondisi pesantren tersebut masih sangat sederhana dengan surau kecil yang hanya dihuni oleh sepuluh santri. Kebanyakan santri beliau berasal dari Gabru diantaranya Bapak Imam, Bapak Manshur dan Bayan Dakir.

Dalam da’wahnya di masyarakat ‘awam beliau menggunakan cara halus, sehingga tidak menyinggung masyarakat dan beliau juga sering terjun langsung ke masyarakat dan membaur dengan mereka. Sehingga beliau tak jarang kumpul dengan para penjudi, pemabuk dan lain-lain. Yang akhirnya beliau mampu mengajak mereka ke ajaran islam.

Selain itu beliau juga berpengaruh dalam bidang orsospol, itu terbukti karena beliau adalah pendiri sekaligus ketua Masyumi di Gurah. Diantara kelebihan beliau adalah kepiawaian dalam menjalankan politik sehingga beliau terkenal sebagai Politikus di wilayah Gurah. Pada waktu itu juga pernah berdebat dengan pengacara di pengadilan negeri Kediri. Akhir cerita pada masa penjajahan jepang pada tahun 1943 beliau wafat dan pesantren diteruskan oleh putra beliau KH.Ahmad Hafidz. ( Nara Sumber : Bapak Syirojuddin A., Turus ).

            Beliau adalah salah satu putra Mbah Sholeh. Pada masa mudanya dihabiskan untuk mondok di lirboyo hingga akhirnya diambil menentu oleh pengasuh pondok lirboyo yaitu Kyai Manab. Beliau dinikahkan dengan putrinya yang pertama yaitu Nyai Hannah. Setelah menikah Nyai Hannah  dan putranya  merasa kurang cocok bertempat tinggal di besole yang jauh dari keramaian, akhirnya beliau membeli tanah di turus dan mendirikan rumah di tanah tersebut ( kediaman KH. Ahmad hafidz sekarang ).

Beliau adalah seorang petani, namun tidak pernah mengetahui keadaan sawahnya apalagi mengerjakan sendiri. Melainkan sawahnya dikerjakan oleh orang lain dengan kesepakatan hasilnya dibagi untuk kedua belah pihak.

Keseharian beliau diisi dengan ibadah diantaranya : menjadi imam sholat, memberi pengajian ( kitab kuning ) kepada para santri dan pada hari selasa dan jum’ah membantu mengaji di lirboyo dengan mengendarai sepeda yang rodanya tanpa angin ( ungkul ).

Setelah wafat beliau dimakamkan di pemakaman umum besole, karena kerasnya peraturan pada waktu itu, tidak boleh memakamkan orang disembarang tempat atau selain di pemakaman umum. ( Nara Sumber : Ibu Nyai Zaenab, Lirboyo ).

            Beliau adalah putra dari Mbah Sholeh, seorang petani dan berkebun yang sederhana yang kemudian diambil menantu oleh  kyai manab ( KH. Abdul Karim ) lirboyo dinikahkan dengan putrinya Hasanah ( Hannah ). Beliau adalah seorang petani dan juga berkebun yang sederhana.

Karena politik pembodohan pribumi yang dilakukan Belanda dengan dilarangnya aktifitas belajar mengajar oleh pribumi apalagi melakukan da’wah secara terang-terangan. Hal ini disiasati oleh para ‘ulama pada zaman dahulu dengan mendirikan mushola didekat rumahnya masing-masing untuk mendidik atau mengajar orang-orang di sekitarnya. Begitu juga dengan kyai Dulloh ( Abdulloh Syiroj ). Keseharian beliau diisi dengan menjadi imam sholat dan mengaji ( Kitab-kitab ilmu ) di mushola yang beliau bangun di dekat rumahnya. Beliau wafat kurang lebih sebelum tahun 1940. ( Nara Sumber : Mbah Jamal, Lirboyo ).

Mbah abdulloh syiroj dulu mondok di tebu ireng kemudian meneruskan ke lirboyo. Menikah dua kali, yang pertama dengan mbah maskanah. Mbah abdulloh syiroj asli kelahiran turus. ( Nara Sumber : Kyai kholiq, besole ).

Arsip

Kalender

Mei 2024
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031